–  –

Menyitir kisah
seorang sufi, Abu Ben Adhim. Suatu malam, Abu Ben Adhim terbangun
dari mimpinya yang indah.

Dan ia lihat, di
ruangan dalam cahaya terang rembulan, yang gemerlap ceria seperti
bunga lili yang sedang merekah, seorang malaikat menulis pada kitab
emas. Ketenteraman jiwa membuatnya berani berkata kepada sang Sosok
di kamarnya, "Apa yang sedang kamu tulis?" Bayangan
terang itu mengangkat kepalanya dan dengan pandangan yang lembut dan
manis ia berkata, "Nama-nama mereka yang mencintai Tuhan."
"Adakah namaku di situ?"
kata Abu. "Tidak.
Tidak ada,"
jawab malaikat. Abu berkata dengan suara lebih
rendah, tapi tetap ceria, "Kalau begitu aku bermohon,
tuliskan aku sebagai orang yang mencintai sesama manusia."

Malaikat menulis dan menghilang. Pada malam berikutnya ia datang lagi
dengan cahaya yang menyilaukan dan memperlihatkan nama-nama yang
diberkati cinta Tuhan
. Aduhai! Nama Abu Ben Adhim diatas semua
nama.

Dalam Al-Quran
juga ada perintah, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua
orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat,
orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan
diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah
yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan
orang-orang kafir seperti itu, siksa
yangmenghinakan."(QS.Al-Nisa’,36-37)

Tindakan
membahagiakan orang lain disebut sebagai shadaqah. Kata ini berasal
dari "shadaqa", yang berarti benar sejati atau tulus. Orang
yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu
berbentuk harta atau uang. "Termasuk sedekah adalah engkau
tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan
duri dari jalanan,"
sabda Nabi Muhammad SAW.

Alkisah,
bertahun-tahun yang lalu, seorang ibu dari salah seorang sultan dari
Khilafah Utsmaniyah membaktikan hidupnya untuk kegiatan amal saleh.
Ia membangun masjid, rumah sakit besar, dan sumur-sumur umum untuk
daerah permukiman yang tidak punya air di Istanbul, Turki.

Pada
suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang dibiayai
sepenuhnya dari kekayaannya. Ia melihat ada semut kecil jatuh pada
adukan beton yang masih basah. Ia memungut semut itu dan
menempatkannya pada tanah yang kering.

Tidak lama setelah
itu, ia meninggal dunia. Kepada banyak kawannya, ia muncul dalam
mimpi mereka. Ia tampak bersinar bahagia dan cantik. Kawan-kawannya
bertanya, apakah ia masuk ke surga karena sedekah-sedekah yang
dilakukannya ketika masih hidup? Ia menjawab, "Saya tidak
masuk surga karena semua sumbangan yang sudah aku berikan. Saya masuk
surga karena seekor semut.."

oleh:
Muhammad Soffa Ihsan

– e n j o y plusplus –

About Mr President

hambaNya, suami istri tercinta Farah Fauziya, ayah anak tersayang Muhammad Husain Athoillah & Ahmad Abid Manshur

dicomment dunk :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s