Cinta
buta, istilah anak jaman sekarang, mungkin bisa diartikan ‘mencintai’
sebuah obyek tanpa memperdulikan siapa, apa, dan bagaimana kualitas
dari sebuah obyek yang dicintainya itu. Hal yang seperti ini
kebanyakan bisa menjadi
duri. Maka dari itu, perlu dipertimbankan sebelum kita benar-benar
menjatuhkan pilihan kepada siapa ‘cinta’ kita akan kita sandarkan.

Dan
cinta juga bisa menjadi ladang amal baek untuk kita, same like (
misalnya ) kita mencintai dunia. Dunia apa toh? Orang kebanyakan
mengartikan ‘dunia’ dengan uang. OK uang. Kita cinta uang, maka dari
itu bagaimana caranya ‘uang’ ini bisa menjadi jalan kita untuk menuju
kepadaNya, obyek cinta yang sesungguhnya. Cinta yang paling agung,
dan cinta yang memang seharusnya kita jatuhkan. ( mbulet? Hihihih )
Dengan kita mencintai uang, maka kita akan berusaha sekuat tenaga
untuk mendapat uang dan menguasai uang. Nah setelah uang kita kuasai,
setelah uang bertekuk lutut kepada kita, karena cinta kita pada uang
ini, giliran kita memanfaatkan uang
sebagai sarana memperbanyak amal sebagai sangu kita
menuju kehidupan abadi. Jadikan uang sebagai sarana, karena tanpa
uang kita akan kesulitan juga untuk berangkat haji misalnya? Dengan
kita banyak uang, kita lebih leluasa untuk memperbanyak amal sodakoh?
Bangun musola? Bikin lembaga kemanusiaan? understand ? :p

Dan, salah satu
bentuk cinta yang menurut plusplus dalem maknanya adalah, perasaan
tidak rela apabila obyek cinta kita menjadi celaka. Nah…..

Hal
itu berlaku untuk kita dan tentu saja untuk orang-orang yang kita
cintai. Misal orangtua, suami/istri, anak, kekasih, dan siapa saja
yang tidak kita kehendaki celaka kelak di akherat ( hihihi dalem ni
yee… ) Artinya, apabila kita ingin ke sorga, tentu sekaligus kita
ingin orang-orang yang kita cintai juga bersama-sama kita di sorga.
Seorang ibu yang mengaku mencintai anaknya tentu ingin berbahagia
bersama-sama anaknya dan tidak ingin anaknya celaka. Maka sungguh
tidak bisa dimengerti apabila ada orangtua yang mengaku mencintai
anaknya tapi membiarkan si anak itu kesasar di neraka.
Demikian
pula sebaliknya; seorang anak yang menyintai dan ingin mengangkat
martabat orangtuanya, yang dalam istilah Jawa ingin mikul dhuwur
mendhem jero, tentu tidak ingin orangtuanya bahagia di dunia yang
fana ini saja tapi celaka di akheratnya. Anak yang mencintai dan
berbakti kepada orangtuanya pasti ingin orangtuanya bahagia di dunia
dan terutama di akherat.

Memang
kadang kita serba salah karena posisi
kita adalah anak, yang untuk memperingatkan orang tua kita sendiri
yang kadang berbuat kekeliruan itu kita susah bagaimana caranya. Gini
aja wes, minimal, kita doakan aja orang tua kita ,
dan jangan bosen !!! Beres toh? Sebuah bentuk iman yang paling
sederhana :p

semoga
bermanfaat, amin….

About Mr President

hambaNya, suami istri tercinta Farah Fauziya, ayah anak tersayang Muhammad Husain Athoillah & Ahmad Abid Manshur

dicomment dunk :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s